Parade tasmi mahasiswa STIQ AM




Mengkhatamkan setoran al-qur’an adalah sebuah kebahagian tersendiri yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang memperjuangkannya. Dan tidak semua orang faham akan manis pahitnya perjuangan itu karena yang mampu faham akan penghafal adalah mereka yang pernah berada dalam zona tersebut.
Kawan, berbahagialah. Karena engkau adalah orang-orang yang Allah pilih dari sekian banyaknya makhluk yang Ia ciptakan.
Salah satu guru saya mengatakan “Jika menghafal adalah pilihan, maka murojaah adalah pekerjaan seumur hidup”. Setelah di resapi memang benar sekali, awalnya saya berfikir kalau menghafal itu cukup satu kali dan stop sampai disana. Tetapi, tidak begitu kawan. Tuntutan kita terhadap Al-qur’an setelah mengkhatamkan setoran adalah me-murojah kembali apa yang telah kita hafal. Dan itulah perjuangan yang sesungguhnya. Jika dianalogikan, Khatam adalah Kunci masuk gerbang sebuah bangunan. Dan me murojaah adalah action kita setelah memasuki sebuah bangunan. Jika menginginkan bangunan itu indah, maka ia harus senantiasa dirawat. Begitupula dengan hafalan. Ia musti di rawat.
Memurojaah tanpa menggabungkan se jumlah hafalan ibaratkan kita menulis dengan  kertas yang terpisah. Jikalau tak di kumpulakn, maka yang terjadi adalah kesulitan dalam menggabungkan ketika akan di bukukan.
Sama halnya juga dengan hafalan. Ia butuh penggabungan supaya apa yang telah di hafal tersusun rapih baik di otak maupun di hati. Maka perlu adanya tasmi’. Yaitu memperdengarkan hafalan kepada orang lain. Supaya kita tahu se jauh mana kekuatan hafalan itu.
           

Komentar